PROJECT DOCUMENTATION

House Price Predictive Model

Machine Learning Regression — House Price Prediction
Course · Praktikum Sistem Telekomunikasi II Team · Kelompok 7 Institution · Universitas Pendidikan Indonesia
House Price Predictive Model cover
01

Pendahuluan

Prediksi harga properti, khususnya rumah, merupakan salah satu tantangan menarik dalam dunia nyata yang kini banyak diselesaikan dengan pendekatan machine learning. Model regresi digunakan untuk mempelajari hubungan antara fitur-fitur rumah — baik numerik maupun kategorikal — dengan harga jual sebagai target.

Studi ini membandingkan empat algoritma regresi: Linear Regression, Decision Tree, Random Forest, dan Gradient Boosting, dievaluasi menggunakan metrik MAE, RMSE, dan R² Score. Dataset mencakup fitur penting seperti GrLivArea, GarageCars, TotalBsmtSF, dan 1stFlrSF, yang diproses melalui pembersihan data, transformasi, serta encoding fitur kategorikal.

GrLivArea — luas area huni
GarageCars — kapasitas garasi
GarageArea — luas garasi
TotalBsmtSF — luas basement
1stFlrSF — luas lantai pertama
OverallQual — kualitas keseluruhan
02

Eksplorasi & Analisis Data

Dataset terdiri dari 1460 baris dan 81 kolom dengan tipe data yang beragam. Beberapa kolom seperti PoolQC, Alley, dan Fence memiliki jumlah nilai hilang yang sangat tinggi, sehingga memerlukan pembersihan dan imputasi sebelum pemodelan.

Visualisasi distribusi fitur dan analisis statistik deskriptif

Distribusi SalePrice dan fitur numerik penting (GrLivArea, GarageCars, GarageArea, dst) menunjukkan pola right-skewed — sebagian besar rumah berharga rendah dengan sedikit outlier mahal.

Heatmap korelasi antar fitur numerik

Heatmap korelasi menunjukkan GrLivArea, GarageArea, TotalBsmtSF, dan 1stFlrSF punya korelasi tinggi terhadap SalePrice — dipakai untuk menyeleksi fitur paling berpengaruh.

03

Preprocessing Data

Data mentah dibersihkan dan disiapkan sebelum digunakan model, melalui beberapa tahapan:

1

Cleaning

Menghapus kolom tidak relevan (ID, kolom dengan missing value sangat tinggi, duplikat).

2

Imputasi

Mengisi missing value sesuai konteks — median untuk numerik, mode untuk kategorikal.

3

Encoding

Mengubah fitur kategorikal menjadi numerik dengan One-Hot Encoding.

4

Normalisasi & Outlier

Menstandarkan skala fitur numerik dengan StandardScaler dan menghapus outlier ekstrem.

04

Pemodelan & Evaluasi

Dataset dibagi menjadi data latih dan data uji dengan proporsi 80:20 (train_test_split, random_state=42). Empat model dilatih dan dievaluasi dengan metrik yang sama untuk perbandingan yang adil.

ModelMAERMSER² Score
Linear Regression20,434.2252,298.870.6434
Decision Tree27,380.9541,785.800.7724
Random Forest17,465.5428,795.950.8919
Gradient Boosting17,434.8228,039.010.8975
Kode dan output evaluasi model

Proses training dan evaluasi keempat model, dijalankan otomatis lewat loop for untuk membandingkan performa secara konsisten.

Gradient Boosting Regressor memberikan performa terbaik dengan MAE dan RMSE paling rendah serta R² paling tinggi. Random Forest juga dituning lewat RandomizedSearchCV (best params: n_estimators=100, min_samples_split=5, max_depth=30) namun belum melampaui performa Gradient Boosting.

05

Kesimpulan & Saran

Kesimpulan: Model Gradient Boosting Regressor memberikan performa terbaik dalam memprediksi harga rumah. Hasil praktikum ini menegaskan pentingnya preprocessing data, analisis korelasi, dan seleksi fitur untuk menghasilkan model prediksi yang akurat dan mampu melakukan generalisasi dengan baik.

Saran: Eksplorasi model tambahan seperti XGBoost atau LightGBM, lakukan tuning pada semua model agar evaluasi lebih adil, tingkatkan seleksi fitur dengan pendekatan statistik, dan sajikan hasil melalui visualisasi interaktif seperti dashboard feature importance.

06

Credits

Mata Kuliah
Praktikum Sistem Telekomunikasi II
Institusi
Universitas Pendidikan Indonesia
Anggota Kelompok 7
Andien Siti Nurdianti, Dimas Naufal Zuhdi, Tiara Ramadea S